Lail Brichana Riani

February 13, 2007

BERANG DALAM DIRI

Filed under: Puisi - Poem

sebenarnya aku bosan dengan senyum yang selalu ditawarkan
sebenarnya hidup itu lebih indah bila tidak ada kesedihan
sebenarnya kamu lebih asyik bila terlihat menakjubkan didepanku
sayang manusia itu selalu mengeluh tanpa harus menatap cermin yang selalu dingatkan untuk selalu dilihat. bagaimana dengan kamu yang diam-diam selalu memperhatikanku
senyummu mengapa tidak pernah terpampang manis bila aku membalasnya
suatu ujian dalam siang bolong yang mendung
kamu masih berdiri dalam pangkuan pohon
sembunyi-sembunyi menungguku pulang
aneh!
aku tidak pernah menyuruhnya
mengapa selalu terjadi
dan mengapa kita akhirnya pulang bersama?!
kau dengan temanmu dan aku dengan temanku
seperti perbedaan yang saling pengertian

October 2, 2006

PENUMBUH SEJUK

Filed under: Puisi - Poem

Ada malam seandainya siang hilang
Ada pagi seandainya sore tak kunjung pergi
Mengapa hari ini pikiranku tampak bingung
Lihat kau yang menekan hati
Tak kunjung pergi malah sengaja menambatkan hati
Bilakah sesuatu akan tergantikan
Aku ingin sesuatu yang lain lebih baik
menggantikan kamu
menggantikan warna langit merah itu menjadi biru
angin berhembus merontokkan kelopak daun
semakin meninggi hingga tak bisa kembali ke tanah
wahai daun kering di telaga hati
buat indah tak terjangkau lagi
semoga lebih baik

Bandung, 02 Oktober 2006

September 27, 2006

AJARI AKU SEBUAH CARAMU

AJARI AKU SEBUAH CARAMU

mengajari sebuah dalaman kalbu
ajari saat sedihku menghapus air mata sendiri
merangkak memakai kedua tangan dan kaki
mengajari sebuah pertimbangan hati
ajari saat seseorang pergi dan sahabat tak kunjung kembali
bagaimana memnata kembali rumah yang di dalam diri
menghampar perih saat luka kembali terguyur gerimis
terlalu sering hingga biasa kehujanan

ajari aku sebuah caramu
melakukan senyum agar bisa
menyinggung bibir manis disetiap kelopak matamu
melintikkan jari melambaikan tangan
mengikhlaskan sebuah kata perpisahan sendiri
ajari aku membuat telaga seperti telaga di hatimu
luas dan merekah tidak seperti secangkir teh
di atas meja makan siangku
terlalu kecil hingga cobaan itu terasa pahit

ajari aku walau sedikit tidak mengenak di hatimu
ajari aku walau harus membiarkan memori hati mengenang yang dulu
ajari aku agar mentari bisa menyingsing dan kau
mengetahui betapa teman terbaik adalah teman
seperjalanan hidup. bukan kesendirian

Pohon Mangga, 27 Sept 2006

September 17, 2006

PERTEMUAN TERAKHIR

Filed under: Puisi - Poem

sebuah liuk hati yang masih mengidamkan seseorang
begitu tersengat hingga tak ingin pergi
meskipun menyakitkan nanti
namun semakin tulus menghinggap dihati
angin berhembus meliuk pergi cenderung menggambarkan dirinya
sebenarnya ini adalah kisah yang seperti apa?
dongeng pagi-kah, novel lama-kah, atau hanya sepucuk
perjalanan penghias waktu
terlalu serampangan
entah mengapa semakin berbelit jalan kisah ini
hati ini semakin tulus menantikan seraut wajah
di seberang jalan. Setelah dia datang, rasa itu hilang
semuanya dari tawa kecil hingga kesedihan yang tak ada buntunya
musnah seperti luapan ombak yang tak mau kalah dengan pantai
pergi selayaknya pengatin kawin lari meminta kepastian
cinta pertamaku ketika menginjak kampus
semuanya hanyalah permainan waktu
dan aksi kejar-kejaran diri dengan perasaan
tak ada yang mengenal kepastian
dia hanya datang menampakkan diri dan kemudian diabaikan
kehilangan itu bagaimana pula menjadi sesuatu yang menyenangkan
membahagiakan, membuat singgungan senyum terbuat dibibirku kali ini
sebuah kata perpisahan darinya yang melegakan sebuah jawaban disanubari

Bandung, 17 September 2006

August 21, 2006

LAYU SEKALI KISAHKU

Filed under: Puisi - Poem

Hujan yang gerimis itu sebenarnya sudah reda
Hanya aku saja yang masih ribut mencari payung tuk berlindung
Matahari sebenarnya sudah cerah
Namun hanya aku saja yang diam mengira langit masih mendung
daun itu sebenarnya sudah layu terbawa angin
tapi hanya aku saja yang kekeh merawatnya
sebenarnya waktu untuk bersamamu sudah habis
tapi hanya aku saja yang terus mengingatnya dan menyuruhmu
mengulangnya kembali
sebenarnya waktu sudah menunjukkan orang lain
namun hanya aku saja melihat gambar wajahmu terdapat padanya
kau sebenarnya sudah pergi jauh meninggalkan jejak
hanya aku saja yang terus ikhlas menanti kedatanganmu

Bandung, 21 Agustus 2006

August 17, 2006

TERSESAT DI KERAMAIAN JIWA

Filed under: Puisi - Poem

Bingung haruskah diterpa angin atau berdiri tegap selamanya
Baju ini sudah selayaknya diganti
Sudah ditawarkan baju yang baru diantara pasar ramai
Entah mengapa begitu enggan membelinya
Bukan karena saku tak tebal
Bukan pula barang tak cantik
Tapi mata sudah lelah di dalam kegelisahan ramainya pasar
Ah…layu sekali kisahku
Meskipun sekarang adalah musim semi
candaan diantara tawa yang kering

Bandung, 17 Agustus 2006

December 26, 2005

Indah Masa Silam

Filed under: Puisi - Poem

aku terhampar kesedihan
ingin kembali ke masa silam
misalkan kecil aku ingin tetap memilikinya
meskipun pahit aku tetap ingin merasakannya
teman genggaman tanganmu kemarin terasa kini
saat jasadmu benar-benar tak di hadapan
kenangmu mengelilingiku
lekat hingga tetes air memuncak di kalbu
teman meskipun kau bukanlah yang terbaik
tapi di antara yang baik itu
kau yang paling mengerti aku
pelangi ini luntur oleh hujan
tengelamnya matahari terseret langit
saat wujud ini telah berubah
aku ingin kau tetap mengenaliku
karena sesuatu itu tak abadi
karena aku merasakan perubahan ini tak cocok padaku
menggapai sibuk hari terhanyut mimpi
tak satupun yang menegur aku

September 23, 2005

Terhina Sendiri

Filed under: Puisi - Poem

dalam lapangan mulai gelap dan menuntutku tuk bersinggah
kaukah itu teman yang menuntunku ke masa depan
tak begitu erat genggamanmu, mengapa?
setelah hadirnya membuahkan hasil
membuat cintamu telah bertepuk
aku sendirian, singgahan itu hanya sebentar
hal itu bukan kalian hal itu bukan kau
permasalahan ini adalah aku
berbuat naïf dan mencoba tersenyum
dalam kesendirian masalahku
teramat hambar

June 16, 2005

Ingin

Filed under: Puisi - Poem

kertas ini kutuangkan tentangmu
yang menghias hati terpenat dikalbu
merasakan hal yang sesungguhnya
begitu dalam hingga tak terukirkan
saat menuggumu begitu indah. Dalam dan sangat
berarti. Mata itu selalu kunantikan kala pertemuan menyapa kita
aku melihatnya sesekali
terasa berat meninggalkan sebuah maya
terpeleset rindu. Buat ini untuk sekali lagi
agar dapat kurasakan terus
dalam bayang semu wajahmu
kunantikan itu berada di samping

April 4, 2005

Seseorang di Dalam Hujan

Filed under: Puisi - Poem

ketika hujan gugur
hati ini masih memakai jas hujan
walau sudah ada yang memayungi
seperti senyum yang selalu melangkah
mendekati. Namun diamku selalu
tak mau menyambut rentangan tangannya
ketika aku melepas jas hujan
payung tiba-tiba terbawa angin
kini, tinggal aku tiada siapa-siapa
rintik hujan itu bermekaran
tanpa menoleh kanan dan kirinya
seseorang yang pendiam itu menyapaku lagi
hingga jas hujan kembali kupakai
tapi dalam jas hujan mulai basah
tak nyaman dibadan. Aku ingin
melepaskannya, niatku baru setengah hati
Aku ingin mengejar payung
Menggenggamnya erat-erat
namun tanah becek ini
membuatku terpeleset. Lumpur,air, dan lumut
mulai melekat dibaju basahku
membiarkan aku sendirian di tengah jalan

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M