Indonesia: Negara Boneka Berkedok Non-Blok
Anti terorisme mendoktrin dimasyarakat agar waspada pada gerakan yang sedikit berbau Islam fanatik, tapi sudah mengertikah Anda dengan arti fanatik itu sendiri?
Disatu sisi, pihak barat memuji kinerja polisi dan TNI tapi disisi lain pihak barat justru menekan pihak TNI. Anda lihat baik-baik permasalahan ini, lihat dengan kedua sisi yang berbeda jangan hanya memicingkan mata saja sambil duduk dengan santai. Fakta yang terjadi dalam perjanjian pertahanan (DCA:Defence Cooperation Agreement) antara RI dengan Singapura. Sejak awal perjanjian DCA ini sudah bermasalah. Diantara isinya adalah:1) Indonesia dibagi-bagi dalam empat wilayah latihan perang Singapura; alpha satu, alfha dua, bravo, dan daerah baturaja. 2) angkatan bersenjata Singapura diizinkan untuk menembakan rudal di wilayah RI, menggelar latihan militer di laut, darat dan udara bersama pihak ketiga. Kemungkinan besar dalam hal ini pihak ketiga yang dimaksud adalah AS, Inggris, atau bahkan Israel.
Dalam implementasinya, Singapura sudah bertindak semaunya dimana secara sepihak Singapura ingin mengatur sendiri latihan militer di wilayah bravo tanpa melibatkan TNI. Lebih dari itu, enam kapal perang angkatan laut negara singa putih ini berenang diperairan Riau. Lalu mereka berubah haluan setelah diusir oleh pasukan patroli TNI AL. Setelah kejadian ini, tiba-tiba saja Amerika serikat mengecam Pemerintah Indonesia, mereka membatasi P3K-nya dalam kemiliteran ke Indonesia. Alasannya pemerintah Indonesia dinilai lamban dalam melakukan reformasi TNI dan dalam menuntaskan kasus pelanggaran HAM oleh TNI (sehubungan dengan kasus Timtim). Apa lagi yang dicari AS untuk menjajah Indonesia, sedangkan Indonesia diam tak berkutik layaknya Negara Boneka yang sedang disodorkan pistol di kepala.
Dengan salah satu alasan Non-Blok, tidak memihak kepada negara siapa-siapa. Indoensia dengan cueknya menonton pembantaian kaum Israel menindas negara yang agamanya sama dengan penguasa Indonesia itu sendiri. Katanya Non-Blok tapi mengapa melihat peristiwa dengan sebelah mata. Menghadiri KTT Riyadh di Irak, hanya semata melihat Amerika Serikat sebagai penyelenggara acara tersebut. Sedikit memaksa sih, namun sudah cukup bukti untuk membeberkan bahwa penguasa kita sudah menutupkan matanya dengan AS.
Padahal Allah telah menegaskan kita agar tidak pernah memberikan jalan kepada kaum kafir penjajah untuk menguasai negeri dan wilayah kita, sehingga orang-orang mukmin di negeri ini benar-benar dikuasai dan dijajah oleh mereka. Jadi sebenarnya dimana rasa takut berada; di Allah-kah atau justru di Amerika Serikat?