Lail Brichana Riani

January 28, 2005

Pilihan Ujung

Filed under: Puisi - Poem

aku kesal dengan sebuah risau. Ujung-ujungnya
mengajak tubuh ini kembali melihat sosok yang selama ini
sangat ingin aku tinggalkan di belakang
walau banyak petunjuk untuk menjauhinya
tetapi tetap saja tubuh ini kembali pergi mendekatinya
semangatku kembali hilang dikarenakan
sebuah risau kembali menutupi dirinya
memberikan peluang sebundar hati
untuk lebih lekat kepada sosok. Haruskah
aku berjalan berbalik lalu kemudian memberikan
harapan kepada risau. Berjalan lurus dan meninggalkan keduanya
atau lebih baiknya, menatap sosok itu
lalu bersender dibahunya. Aku kesal karena kebingungan
ketiga pilihan membuat jiwa ini bertambah menjauhi
risau dengan sebuah sosok. Ujung-ujungnya
aku yang lebih merasakan sakit hati ini

January 25, 2005

Saat Sekolah Sepi

Filed under: Puisi - Poem

sekolah yang sunyi
ada bayangan putih menghiasi setiap kelas
di koridor sekolah yang sepi
pada saat pulang dia memberi senyum padaku
aku sedang menunggu
sebuah kucing yang selalu mengeong pada kaki
suasana sekolah saat ini terlalu sepi
terdengar desahan nafas yang sedang bernyanyi
tali bendera yang membentur tiangnya terdengar,
terlalu menyusahkan hati
namun sangat menyenangkan
di koridor ini, pada hari ini
orang yang pernah mengisi hari sunyi
menyapaku. Sudah ratusan kali pula aku melewatinya setiap pulang sekolah
menginjak kisah di bangku menengah atas
teman, seseorang yang pendiam itu masih
mengusik jejakku. Walau, beberapa kali
senyum telah menggores dinding kelasku
namun aku tak bisa memungkirinya
adakah suatu kisah yang dapat kuberikan
untuk membalas senyum seseorang itu
walau hanya sedetik, Walau hanya sejam,
meskipun hanya sehari. Aku ingin sekali
memberi senyumku tanpa memikirkan seseorang yang pendiam itu

January 16, 2005

Buntu Dalam Angan

Filed under: Puisi - Poem

ujung jalan sudah terinjak. Sudah ada tapak kaki kerapuhan
tentang solidaritas. Sorot mentari masih menjadi sinar tampak di sini
namun tak bisa menerangi hati telapak kaki
sepasang mata kaki mulai menginjak pergi
dia tak membawakan alas kakinya. Mata kaki membiarkan jejak tertinggal
tapak kaki besar tersengat sebutir pasir. Menindih tepat pada kutu airnya
sedikit mulai tertiup angin. Namun angin itu terlalu pelan, masih tak bisa menyingkirkan. Di ujung jalan diam terpaku membiarkan daun-daun kering menabrak pelan meneriakkan hak. Sulit sekali membedakan seujung rambut dan sehelai bulu
karena hanya sebuah kesalah pahaman yang dianggap
keputus asaan. Pelan kemudian cepat, sebuah rasa bosan akan merasuki
sifat ini. Membuat gelap semakin gelap.

tapak masih ingin diam terpaku, mengenang masa kekalahannya dulu
sebuah kehebatan melawan angan-angan
yang diperebutkan oleh hati
dia hanya berusaha sebuah tapak akan mendekatinya
kemudian menemani dalam hangat
mentari. Harapan itu adalah angannya saat itu

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M