Kala Hari Itu
diterjang sebuah kerisauan hati. Memulai detik-detik dari awal kembali
membuat risau sekali lagi. Hentakan jantungku hampir pecah mendengar
jeritan-jeritan sebuah keputusasaan. Aku kehilangan ibu
menghilang semua tangisanku
baru kemarin kumenawarkan tanganku di dapur
baru kupasang celemek melalui lehernya
kini yang kulihat hanya bangkai
tergeletak mengenai lumpur
mengoyak seluruh sendi urat nadiku. Seperti tak mempercayainya
kulihat sekeliling melihat seluruh tubuh terbujur kaku di jalanan kampungku
meraung persis seekor serigala ayah berteriak
ini baru kenyataan pahit
pengalaman yang melelahkan
angin yang selama ini menusuk sukma. Kini telah menjatuhkan tubuh
aku menelungkupkan wajahku ke tanah
aku tak sendirian. Anak-anak itu juga menangisi bangkai
sejari demi sejari. Seperti halnya aku yang sedang menangisi
sebatang kayu . Batang kayu itu keriput, keriput karena tersiram air
mulutnya menganga karena terlalu serakah meminum air asin
matanya melotot melihat indahnya ombak menerjang di depan
Ayah, aku masih mempunyai tangan
tanganku bisa menanam pohon. Membuatkannya daun, memberinya buah
lalu memetikkannya untukmu yang manis. Akan kulakukan kepada adikku pula
adik satu-satunya yang kupunya sekarang. Walau sebelumnya tawa adikku membahana
di setiap pojok ruang keluarga. Keluarga ini berpenghuni tiga orang
termasuk aku. Penghuni yang lain, masih tertindih
di tumpukkan balok-balok kayu. Entah masih bernapas atau tidak
wajah dekil ini kubentangkan ke langit.Menadahi sehisap air yang keluar
aku tak bisa menanggungnya sendirian
tanpa ada tangan yang mejulur di depanku
tanpa ada sebuah tangan memegang bahu rapuhku
air mataku tertahan. Mendengar sebuah tawa keluar dari mulut adikku
berteriak sambil menunjuk tangan kebangkai ibu
“Itu mama, kak. Ayah itu mama, mama lagi tidur di sini ternyata!”