Lail Brichana Riani

December 30, 2004

Kala Hari Itu

Filed under: Puisi - Poem

diterjang sebuah kerisauan hati. Memulai detik-detik dari awal kembali
membuat risau sekali lagi. Hentakan jantungku hampir pecah mendengar
jeritan-jeritan sebuah keputusasaan. Aku kehilangan ibu
menghilang semua tangisanku
baru kemarin kumenawarkan tanganku di dapur
baru kupasang celemek melalui lehernya
kini yang kulihat hanya bangkai
tergeletak mengenai lumpur
mengoyak seluruh sendi urat nadiku. Seperti tak mempercayainya
kulihat sekeliling melihat seluruh tubuh terbujur kaku di jalanan kampungku
meraung persis seekor serigala ayah berteriak
ini baru kenyataan pahit
pengalaman yang melelahkan
angin yang selama ini menusuk sukma. Kini telah menjatuhkan tubuh
aku menelungkupkan wajahku ke tanah
aku tak sendirian. Anak-anak itu juga menangisi bangkai
sejari demi sejari. Seperti halnya aku yang sedang menangisi
sebatang kayu . Batang kayu itu keriput, keriput karena tersiram air
mulutnya menganga karena terlalu serakah meminum air asin
matanya melotot melihat indahnya ombak menerjang di depan
Ayah, aku masih mempunyai tangan
tanganku bisa menanam pohon. Membuatkannya daun, memberinya buah
lalu memetikkannya untukmu yang manis. Akan kulakukan kepada adikku pula
adik satu-satunya yang kupunya sekarang. Walau sebelumnya tawa adikku membahana
di setiap pojok ruang keluarga. Keluarga ini berpenghuni tiga orang
termasuk aku. Penghuni yang lain, masih tertindih
di tumpukkan balok-balok kayu. Entah masih bernapas atau tidak
wajah dekil ini kubentangkan ke langit.Menadahi sehisap air yang keluar
aku tak bisa menanggungnya sendirian
tanpa ada tangan yang mejulur di depanku
tanpa ada sebuah tangan memegang bahu rapuhku
air mataku tertahan. Mendengar sebuah tawa keluar dari mulut adikku
berteriak sambil menunjuk tangan kebangkai ibu
“Itu mama, kak. Ayah itu mama, mama lagi tidur di sini ternyata!”

December 17, 2004

Sudah Merawatnya

Filed under: Puisi - Poem

cuaca mendung tak ada yang menyapa hari
dia sedari tadi tak dilihatku
benar, angin itu telah berhembus
telah menyapa hari tanpa sepengetahuannya
mata ini sedari tadi sudah melihat lekat batang hidungnya
tapi dia tak peduli dan tak ingin mencari tahu
sebenarnya hubungan kita seperti apa
kau selalu datang ketika hati diam
seperti tanah tanpa pohon
walaupun lekat dengan akarnya
namun tetap menggundul
inilah kita senyum menghangatkan
tubuh pagiku. Merona merah tak nampak
aku sulit menebak tingkahmu
biar begitu-begitu saja
bola matamu selalu berubah
biar begitu-begitu saja
perlakuanmu tak jelas terhadapku
tak ada rasa benci namun tak dekat
aku tak yakin itu adalah ungkapan rasa sukamu
karena perlakuanmu pada yang lain hanya sedikit berbeda. Seperti hujan dan langit hanya berbeda nama
sama sepertiku. Kini sudah berbenih pohon dan aku merawatnya tanpa sepengetahuanmu

December 15, 2004

Hal yang Terbiasa

Filed under: Puisi - Poem

ada seorang teman membetulkan rambutnya
menyisir helai demi helai letak tatanan dikepalanya
kemudian dia mulai memotong rambutnya dengan bantuan temannya
aku melihat jelas, satu-persatu jatuh kebawah
namun aku tak bisa berbuat apa-apa
karena temanku dan temannya melakukan hal itu dengan sengaja
aku tak bisa berbuat apa-apa
hal ini biasa terjadi dihariku
walaupun potongan itu sangat menyakitkan
namun hal itu wajar
terjadi dimana-mana
di pinggir jalanpun ada
di salon-salon langganan
seperti halnya menyakitiku
didepannya selalu
itupun hal yang wajar
hingga aku tak bisa berbuat apa-apa
sama halnya ketika temanku dan temannya
memotong rambut temanku itu

Seolah Tiada Indah

Filed under: Puisi - Poem

kemudian dia medekatiku
menjauhiku seperti tingkahnya
tiada arti apa-apa. Mengatakan “Ya” padaku
menatapku lalu mencoba untuk menyentuhku
belaian angin menghunuskan ujung rambut
aku memandangmu seperti aku memandang langit
kosong, diam, terpusat
sama halnya batuku. Tak bergerak diterpa angin

langit biru tanda kegembiraanku
langit mendung tanda sedihku
sama halnya dengan batu
bila dihancurkan akan hancur

dia menunjukkan batang hidungnya
seolah aku tiada pernah menjadi lebih di depannya
tenang, acuh, tak melihat
karena aku gagal melihat perhatiannya
atau justru tak ingin mengakui
betapa belaiannya itu menunjukkan indahnya ku
berartinya ku, hebatnya ku dihatinya

December 10, 2004

Rasa yang Sekarang

Filed under: Puisi - Poem

hari ini angin terasa menusuk lembar ceritaku
memindahkan halaman dengan lembutnya
tapi aku merusaknya
mecengkramnya tanpa ada rasa bersalah
padahal angin hanya ingin menyapa kisahku yang penuh senyum. Dia berdiri memperhatikanku
seakan ingin mengatakan sesuatu
tentang angin itu
aku membuatnya marah untuk kesekian kalinya tapi aku tetap tak peduli. Tetap tak mengatakan apa-apa
sekali lagi senyum itu melirikku dan marah
tapi kali ini aku peduli sangat memedulikannya
karena aku sudah menerimanya sebagai yang mengisi hariku. Aku sudah melangkah mendekatinya

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M