Lail Brichana Riani

November 6, 2004

Senyum

Filed under: Puisi - Poem

Diakhir pelajaran teman keluar kelas
dia menungguku dengan senyumnya
tak pernah meninggalkanku sendirian
walau hati ini menyimpan debu
senyum itu dapat membuatku masam
tapi diri ini masih diam belum bergerak
dan tak merespon seperti dengan wajah tampan
juga dengan kenangan
aku ingin dia bilang “aku tak suka kau dengannya”
cukup bilang seperti itu aku sudah senang
kuncupnya pasti mekar
sayang raut wajahmu sama sepertiku
untaian katamu pasti tersembunyi
lagu kita berbeda notasi
bila menyatu membuat senyum
menghilangkan gundah yang selama ini tersimpan
membuat segaris gigi dalam mulut
ingin menyanyikan kelamaan didepanmu
aku mengerti resikonya membuka kisah lama
lalu menceritakan sepenuh hati didalamnya
sekarang kau adalah senyum
yang terukir dibibirku
bukan disanubari
aku baru mendekati selangkah
tak berharap banyak darinya

mencintai seseorang jangan keterlaluan
karena sama saja menusuk belati
kedalam dada sendiri
sebab aku tak ingin menggores senyumku terlalu dalam untukmu

November 3, 2004

Sekarang

Filed under: Puisi - Poem

sebuah risau mengelola tubuhku
mencurahkan jasadku
sentuhanmu pernah menyentuhku
senyummu sudah melekat dimataku
risau itu berganti kamu
memberiku sebuah perhatian dalam suatu genggaman tangan
bila menjadi baku dan bila menjadi cair
aku telah membuat wadahnya
biar seperti hitam dan seperti putih
namun aku dapat membuat sketsanya
biar sentuhan itu hanya sebentar
aku ingin kau memilikinya
memiliki apa yang aku miliki
merasakan seperti yang aku rasakan
walau bukan yang pertama
walau bukan yang terakhir
tapi kuharap terdengar indah
ditelinga setengah umurmu
tentangku yang memberi senyum

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M