Lail Brichana Riani

October 31, 2004

Bola Kacaku

Filed under: Cerita Pendek

Berjalan sendirian, pandangan gadis itu kosong. Aku sangat ingin memeluknya atau membuat penyanggah untuknya. Karena kelihatannya, gadis itu bisa jatuh sewaktu-waktu. Jalannya sangatlah pelan, tak bertenaga. Dia melewatiku, tanpa ada perkenalan, tanpa ada pamitan, tanpa ada senyum. Kali ini aku hanya bisa melihat punggungnya, tak dapat melihat matanya yang mulai layu tak bersinar lagi.

Dia adalah teman sekelasku, Rina. Duduk di depanku dengan rambut panjang tergerai. Sekali-kali dia menyibakkan rambut panjangnya ke belakang, di saat jam pelajaran berlangsung. Membuat wangi rambutnya menyentuh ujung hidungku. Membuat alunan detak jantungku terasa berat untuk berjalan. Aku sangat ingin menarik nafas panjang, agar wangi samponya benar-benar melekat di hidungku.

Dengan geraian rambutnya, batu bata cinta tersusun dalam hatiku untuknya. Suaranya yang lembut, kudengar sesekali saat dia menjawab pertanyaan. Dia adalah gadis yang sangat periang, sangat berbeda aliran denganku yang selalu menuliskan puisi di lembar belakang buku catatanku. Kutuliskan untuknya, yang amat kuperhatikan di dalam kelas.

Sehelai Rambut

kibaran helaian rambutmu
membuat aroma tersendiri dalam udara
membuat darah dagingku menggigil
seperti hujan membuat hawa dingin sedingin es
terhadapmu seperti itu
mendinginnya nadiku
mencium bau rambutmu
kadang helaian rambut yang kau sibak
menempel di wajahku yang dekat denganmu
membuat untaian kata-kata
di balik buku catatanku

Dari sebuah pinjaman penghapus. Tangannya menyentuh jariku yang sedang menulis. Membuat kaca mata yang melekat di wajahku harus jatuh dan pecah “Maaf, maaf yah saya tidak sengaja!”
“Maaf soal apa? Tanganmu yang sudah menyentuh jariku atau soal kacamataku yang pecah”
“Ah…eh…”, mukanya memerah. Dia balikkan badannya, membelakangiku. Aku sangat senang melihat bola matanya yang sedang menatap wajahku dengan kebingungan.

“Tomi…!”, aku balikkan badan mencari sumber suara “Tomi aku…”, tubuh Rina berdiri di depanku. Dia menundukkan kepalanya tak berani menatapku, akupun berbuat sama. Kemudian aku mendengakkan kepalaku, kami bertemu pandang “Aku sungguh…sungguh me…minta maaf padamu…”, ucapnya terbata sambil memainkan jarinya “Kenapa meminta maaf padaku?’, tanyaku. Matanya berubah serius “ Aku akan menggantikan kaca matamu yang pecah. Aku akan membelikan kaca mata baru untukmu. Kalau kau bisa, kita pergi bersama untuk mencari kaca matamu yang baru”, ucapnya menjelaskan. Kulihat sinar matanya sangat serius, berbeda sekali dengan yang tadi. Aku tidak bisa berfikir banyak. Tiba-tiba saja tangannya meraih lenganku, dan menarikku pergi.

Kami pergi ke Mall, kami pergi hanya berdua saja. Kami kelilingi semua tempat, walau barang yang kami cari sudah terbeli. Saat itu kami isi waktu dengan menceritakan pengalaman diri yang konyol. Sikapnya sangat sulit ditebak, aku rasakan hal itu sangat kental di dirinya. Tawanya sangatlah manis, aku tak menyesal kaca mata kesayanganku ini pecah. Setelah acara jalan-jalan berakhir, kami jalan di trotoar bermaksud untuk pulang. Hari sudah gelap, tak baik wanita jalan sendirian pikirku dan berniat mengantarnya sampai rumah. Langit sangat hitam, tak ada bulan dan bintang malam ini “Besok langsung dipakai ya…”, pintanya “Ya”, jawabku datar. Kami saling diam, seperti tak ada kata yang tepat untuk mengakhirinya. Tiba-tiba saja rintik hujan membasahi baju sekolahku, membasahi baju sekolah kami. Dengan cepat aku menggenggam tangannya lalu mengajaknya berlindung. Di pohon yang rindang kami berlindung. Masih tanpa kata-kata kami membersihkan buih-buih hujan yang menempel di baju kami masing-masing.

“Rumahku sudah dekat, kau pulanglah”, pintanya sambil memandang ke depan tanpa melihatku “Tidak baik meninggalkan seorang teman apalagi dia seorang wanita, di pinggir jalan seperti ini”
“Apakah kau termasuk laki-laki yang tak pernah menyakiti hati lawan jenis?”, tanyanya datar sambil melihatku kali ini. Di balik kata-katanya mengandung makna yang berarti, tapi entah itu apa?. “Kenapa diam?’, tanyanya. Jawaban itu sudah dalam benakku tapi aku ragu untuk mengutarakannya. “Wanita itu seperti bola kaca, mudah sekali pecah. Bila kita memeluknya terlalu erat, dia akan pecah. Tapi bila kita membiarkannya, dia akan menggeliding. Aku hanya mencoba sekuat tenagaku. Menjaga bola kaca itu agar tidak pecah dan tak pergi dariku. Sayang aku belum mempunyai bola kacaku sendiri, jadi apa salahnya aku sedikit melakukannya terhadapmu”, dia menatapku lekat. Hujan yang deras tak kami hiraukan, tatapan matanya seolah memegang erat tanganku. Suara petir menyambar kesadaran kami “Benar, rumahku sudah dekat. Aku tidak apa-apa pulanglah”, kali ini tangannya mendorong tubuhku, menyuruhku pulang.

Hujan sudah mulai reda, rintik gerimis menyambut langkah kami pulang. Aku ingin sekali mengantarnya dan dia mengijinkannya. Di depan rumahnya, aku hanya bisa melamun mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja. Bibirnya membuat senyum, membiarkan mata ini terpaku “Mampir?”, ajaknya. Tarikan tangannya yang menggenggam tanganku membuatku untuk mengikutinya. Rumahnya biasa saja namun sangat nyaman, sentuhan wanita sangat kental di sini. Hanya dalam sebuah malam. Entah apa yang memasuki pikiranku, aku memasuki kamarnya, menggenggam tangannya seolah dia adalah milikku, rambutnya yang panjang itu kali ini benar-benar kubelai. Tak ada yang kami tertawakan, tapi kami hanya tertawa pelan. Aku mengikuti alur tubuhnya seperti aku mengikuti alur tubuhku.

Malam yang lelah, tempat tidurnya membelaiku lembut. Tubuh Rina terkulai di sampingku. Masihku lihat jelas seluruh tubuhnya, kami tabrakkan mata.

Pagi-pagi mejaku sudah kuhias dengan sebatang pulpen dan secarik kata dalam halaman belakang buku catatanku.

Sungkan
aku memulainya dengan sebuah tawa
merobek seluruh ragaku yang berotot ditatapnya
ditatapnya aku pelan-pelan seperti aku seoarang musafir
tatapannya mengajakku tergelincir
seolah aku ini tamunya
tamu jiwanya ini duduk manis di pojok hati
sambil terus membayangkan perlakuannya
apakah kita masih teman
adakah sebatas garis yang masih membatasi kita
membatasi betapa kecilnya kita

Dia datang sambil terus menatapku, tak ada senyum di wajahnya. Hal itu membuat prasangka buruk terhadapku. Namun setelah duduk lama di mejanya sapaan itu keluar dari mulutnya “Pagi Tom”
“Pagi…”, jawabku tanpa berani menatap wajahnya. Kisah kami sangat indah tak ada cacat sedikitpun, walaupun kami tahu sebenarnya kita terlalu membangkang. Namun menjelang akhir tahun pertengkaran mulai merebak. Kedua orang tuanya mengetahui kami pacaran. Padahal kami masih duduk di kelas tiga SMA, masa depan kami masih jauh dan belum tentu Rina adalah teman hidupku untuk selamanya. Apa salahnya kami saling mengenal walau mencoba serius. Orang tuanya terlalu otoriter, apa karena aku dianggap seonggok orang yang tidak berguna. Karena aku yatim piatu, dan hanya mempunyai orang tua angkat.

Muka Rina dalam beberapa minggu ini terlihat sangat pucat. Aku selalu menanyakan apa sebabnya, namun dia tak pernah menjawabnya. Dia terlihat sangat lemah, tiba-tiba saja dia menangis di pundakku saat sekolah usai di dalam kelas
“Ibu menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku…”, ucapnya sambil terisak tanpa berani melihat bola mataku “Maksud kamu?”, tanyaku bingung “Aku mengandung anakmu…hik…hik…”
“Kita hanya melakukannya sekali Rin,…”
“Tapi justru karena sekali itu yang membuat jadi,Tom!”
“Kamu hamil?”
“Iya aku hamil dua minggu…”
“Tapi Rin kita melakukannya sudah beberapa bulan yang lalu, tapi kenapa umur kandunganmu baru dua minggu?!”
“Kamu tidak percaya denganku Tom? Kamu Tom, kamu! Kamu yang selalu menginjak benakku, yang mengisi mataku setiap hari. Kau tahu sendiri waktu itu aku masih perawan dan kita melakukannya atas suka sama suka! dan kita tak sengaja melakukannya saat itu Tom. Dan setelah semua sudah terlambat, kau menyangkalnya Tom!”
“Bukan itu, aku hanya tidak percaya…”
“Iya, kau tidak percaya kalau aku melakukannya hanya dengan kamu saja! Iyakan?”, aku hanya bisa diam dan ternyata diamku membuat Rina putus asa “Biadab!”, ucapnya keras sambil menangis pergi. Aku melihat punggungnya yang berlari pergi sambil meninggalkan keputusasaan….

Beberapa hari kami tak saling bicara, hati nulariku menyuruhku untuk berbicara duluan dan aku menurutinya. Tapi Rina selalu menghindar, terpaksa aku mengajaknya berbicara di saat jam pelajaran. Dengan secarik kertas aku mengirim pertanyaan untuknya,
Kenapa selalu menghindar?bales,Tomi…
Buat apa terus menempel dengan orang yang sama sekali tak mempercayai pacarnya sendiri.
Kamu salah paham, waktu itu aku sangat kaget. Hampir saja aku tak bisa berbicara sepatah katapun.
BOHONG…!
Kalau kau tidak percaya kita bicara setelah usai sekolah,
Kalau kau memang ingin bertanggung jawab, selesaikan sekarang!
Dengan cara apa?

Kuserahkan kertas itu kepadanya, agar dia menjawab lagi atas pertanyaanku. Tiba-tiba saja, “Pak, Tomi menggangguku dengan kertas ini pak!”, teriak Rina sambil memamerkan kertas dariku. Wajahku langsung pucat pasi, mulutku kaku, sedangkan tubuh Pak Herman terus mendekatiku dan Rina
“Maju ke depan Tomi”, suruh Pak Herman sambil menyerahkan kertas itu kepadaku. Aku menuruti perkataannya, saat bangun dari tempat dudukku Rina berbisik kepadaku “Dengan cara ini”, katanya lirih. Tubuhku berdiri tegap di depan kelas “Baca kertas yang kau kirim buat Rina!”, ucap Pak Herman lantang. Dengan tangan yang bergetar aku membaca keras-keras isi kertas ini.Teman-teman yang lain menertwaiku, aku malu sekali tapi apa boleh buat.
“Kau puas?”, tanyaku kepada Rina saat aku mulai duduk kembali. Pak Herman tak mengatakan apa-apa lagi, tapi wajahnya menunjukkan bahwa isi kertas ini sangatlah lucu. “Yah, sangat puas. Aku menunggumu usai pulang sekolah, di sini”, ucapnya penuh senyum. Syukurlah…

Satu-persatu teman kami mulai keluar, kami masih duduk diam.
“Kau mau bertanggung jawab?”, tanyanya membuka pembicaraan. Wajahnya kupandang sangatlah pucat. Gerak tangannya menggapai tanganku kini sangatlah lambat.
“Aku belum siap”,
“Kenapa belum siap, saat kau melakukannya kau siap. Padahal hal itu sangatlah dadakan!”, dia mulai menangis dan melanjutkan perkataannya “Benar kata ibuku, aku harus menggugurkan kandunganku. Karena seorang yatim piatu mana berani untuk bertanggung jawab!”, ucapnya keras dan sangat menusuk hatiku tepat sekali di jantungku “Rina!”, bentak aku tiba-tiba dan hal itu membuat tangisannya berteriak lebih keras lagi.
“Tom…hik…aku tak mau menggugurkannya, sama sekali tidak mau. Aku mencintainya sama persisi aku mencintaimu…hik….Tolong Tom, bertanggung jawablah…”
“Akan kupikirkan nanti…”
“Kau lupa akan janjimu?”, tanyanya dan kali ini aku melihat bola matanya yang serius itu lagi “Yang mana?”
“Janjimu saat kita benar-benar belum jadian, saat aku memecahkan kaca matamu dan sebelum kita melakukan perbuatan yang biadab itu!”, kata-katanya mulai histeris. Tak lama kemudian dia berkata “Wanita itu seperti bola kaca…”
“Gampang sekali pecah, bila kita menggenggamnya erat dia akan pecah dan bila kita membiarkannya dia akan menggelinding. Aku hanya bisa berusaha sekuat tenaga untuk, menjaganya agar tidak pecah dan apa salahnya aku melakukannya terhadapmu”, bibir kami bergerak bersama. Ada luka yang diam-diam mengeluarkan darah di hatiku “Aku minta maaf…”, ucapku penuh sesal yang terlalu kaget dengan peristiwa ini. Air mataku mulai keluar, dia tersenyum “Kau sudah membuatku pecah Tom, dan aku percaya kau tak akan membiarkanku menggelinding”, aku memeluknya persis seperti malam itu. Saat dia belum di genggamku erat.

Saat ingin mengantarnya pulang, seperti biasa kami selalu bercanda. Jalan raya yang menuju rumahnya dipenuhi kendaraan yang lalu lalang
‘Cekiiiit….!’
“Kyaaa…!”
‘Braaak…!’, entah bagaimana kejadiannya. Itu terlalu cepat bagiku, aku tak percaya akan hal ini. Tubuhnya tergeletak di aspal depan rumahnya, mobil telah menghantam tubuhnya keras. Ayah dan ibunya menamparku berkali-kali di rumah sakit. Tamparan yang sangat menyakitkan hatiku, pada saat Rina sadar dan membisikkan “Tersenyumlah, anakmu sudah tiada…”, ucapnya sambil mengeluarkan tetesan air mata seorang ibu. Aku hanya bisa menggenggam tangannya sambil meneteskan air mataku untuk anakku yang pertama kali di hidupku. Sayang tetesan air itu bukanlah kebahagiaan. Kamar rumah sakit sangat sepi, tak ada suara suster yang sedang membantu dokter, tak ada suara omelan ayah angkat, tak ada suara tamparan kedua orang tua Rina…hanya ada suara tangisan bayi yang membayangi diri kami, meneriakkan kehidupan ditelinga kami.

Berjalan sendirian, pandangan gadis itu kosong. Aku sangat ingin memeluknya atau membuat penyanggah untuknya. Karena kelihatannya, gadis itu bisa jatuh sewaktu-waktu. Jalannya sangatlah pelan, tak bertenaga. Dia melewatiku, tanpa ada perkenalan, tanpa ada pamitan, tanpa ada senyum. Kali ini aku hanya bisa melihat punggungnya, tak dapat melihat matanya yang mulai layu tak bersinar lagi.

Aku mengejar tubuh gadis itu “Rina…!”, tangannya kuraih lalu menatap matanya “Kita bisa memulainya dari awal BOLA KACAKU, di pernikahan…”, matanya yang layu tak bersinar lagi mulai menatapku hampa “Di pernikahan?”
“Yah di pernikahan, aku akan melamarmu kapan saja! Kau maunya kapan? Hari ini atau kapan?”, tanyaku penuh senyum dan membuat segores senyum di bibirnya kali ini. Dalam hatiku untuk bola kacaku, kali ini dilembaran yang baru aku tak akan membuatmu pecah lagi ataupun menggelinding menjauhiku. Aku akan menjagamu sekuat tenagaku dan melakukan hal itu sepenuh hatiku terhadapmu. Aku menggenggam tangannya, mengantarnya pulang. Senyum kami merekah sama persis waktu yang lampau mungkin lebih indah sekarang walau ada sedikit luka yang membekas di diri kami masing-masing. Aku sangat mencintaimu bola kacaku, sama dengan kau yang sedang tersenyum padaku.

October 30, 2004

Semestinya

Filed under: Puisi - Poem

Maaf,
aku tak pernah memberi senyumku
tak pernah menyirami bunga di tamanku
Maaf,
walaupun sering ke kelasmu tapi tak
untuk mencarimu
maaf, sekali lagi untuk maaf
hari ini aku ingin menggenggam
tanganmu lebih dulu sebagai
balasan kau telah menyentuh hatiku
aku memikirkanmu karena patut memikirkanmu
aku memperhatikanmu karena patut memperhatikanmu
hanya sebuah rasa patut
tak jarang bila hanya sebuah senyum menyinggung
bibirku
maaf,

October 25, 2004

Menangislah

Filed under: Puisi - Poem

rasa sedihmu akan terurai
bila kau menangis di pundak
mencibirkan senyum hingga tak dapat tersenyum
basahi saja kemejaku
asal kau dapat melupakan laramu
kemudian singkirkan masa lalu
pandangi pemandangan di depan
kau akan temukan aku berdiri tegap
sambil membentangkan tangan
siap-siap untuk kau dekap
mengalihkan perhatian
menagislah….
hingga kau pandang aku
tanpa air mata di pipi
dan senyum mengembang
basahi saja kemejaku
akan kubelai rambutmu yang panjang
dan melepaskan rasa salahmu di hati
aku akan sabar menunggu
mendengar rengekkanmu
dan tawa kecilmu yang merana
membasahi luka yang hampir terobati
mengapa masih mengingatnya
dia hanya sebuah sindiran
masa silammu
menyingkirkan kebahagiaan antara kita
menangislah….
hingga cuaca mendung ini berlih cerah
hingga senyum dapat menggores bibirmu

October 22, 2004

Mata

Filed under: Puisi - Poem

hari ini aku dilihatnya
diperhatikannya
diliriknya
diperlakukan lebih oleh matanya
mulutnya diam tak bersuara
tapi matanya
selalu bebicara banyak denganku
berbicara tentang yang dilihatnya
yaitu aku
matanya
menyimpan rasa gundah yang sebenarnya aku tahu
takut kehilanganku
takut tak bisa melihatku lagi
dan aku tak tahu harus menjawab apa
mata itu selalu menantikan kemunculanku
ditempat dekat ruang guru
pandang lurus kedepan dia akan melihat kelasku
dan aku berada disitu
aku hanya bisa tersenyum tak menyatakan apa-apa

October 20, 2004

Masih Dalam Jejakku

Filed under: Puisi - Poem

dimalam yang dingin aku menginjak kesunyian
aku tersadar saat teman menyadarkanku
dia mengharapkanku
terlihat dari bola matanya yang selalu memperhatikanku diam-diam. Aku teringat kisah dulu yang bertepuk sebelah tangan. Dia merasakan itu terhadapku
aku sudah memberi senyumku tapi belum hatiku
aku sudah menyayanginya
tapi belum memperhatikannya
masih belum cukupkah dia datang untuk yang kesekian kali hanya untuk dikecewakanku. Aku ingin meminta maaf kepadanya dan ingin sekali bilang bahwa aku selalu memperhatikannya . Namun sampai hari ini itu belum terjadi dihariku
aku sangat ingin meminta maaf dan bilang
seseorang yang pendiam itu masih menghiasi jejakku
masih mengelilingiku diantara benaku tentang dirinya
maaf…belum bisa hatiku mencintainya
seperti kisah dulu yang bertepuk sebelah tangan
dalam bayangan sunyi sekali lagi aku
membiarkan kepalaku memalingkan pandangan terhadapnya
sekali lagi dia memaklumkan perbuatanku
kemudian memberikan senyum kala kita bertemu pandang. Maaf, sampai saat ini seseoarang itu masih dalam jejakku
aku tidak bisa mencintai sesuatu yang ditanganku
dia…
masih dibelakang mengikuti jejakku

October 15, 2004

Surat Terakhirku Untuk Umur Enam Belas

Filed under: Puisi - Poem

ketika kau pertama kali menyuntingku
kurasakan diri ini terbelah menjadi dua
diantara kekanak-kanakan dan kedewasaanku
kau menyentuhku dengan lembut melalui
sesosok pria yang menyapaku dengan senyum
dan jabat tangan perkenalan dari lengannya
pernah sesekali aku melihat bola matanya sedang melihatku
melihat senyum manisnya mengelumat memberiku tawa kehampaan
keakrabannya adalah kenangan
kenangan untuk yang terdepan
saat jemariku baru diraihmu
kenangan itu berlari mengelilingiku
memujiku kemudian menertawaiku
aku pernah dianggapnya pacar “Pacar manisku“, katanya
kenangan itu tak pernah menyalamiku lagi
walau tawanya masih membahana diujung mataku
melihat sisi buruknya memandangku
melihat sisi baiknya saatku pandang tanpa diketahuinya
tanpa memberi salam terakhirnya
dia pergi diingatan dan aku tak peduli
seperti halnya dengan suntinganmu aku tak peduli

hari berjalan. Senyum dimata teman terbuat olehku
aku senang mendengar tawa mereka
kala aku sendirian dipojok kelas
melihat langsung satu-persatu wajah kedewasaan mereka
walau kadang terlalu kekanak-kanakan
mengilhami betapa senyumku terbuat oleh mereka
walau kadang rasa sedih itu menimpa
sebut saja aku si bandel
selalu berteriak keras kala mereka menasehati
panggil aku si periang
tak pernah mengenali tempat berpijak
dimana aku harus serius dan dimana aku harus bercanda
mereka tak pernah mengenali murungku
karena aku tak pernah memperkenalkannya dihadapan mereka
mereka tak pernah mengetahui senyumku
karena senyum kebahagiaanku
sama dengan senyum kesedihanku
umur enam belas
kadang-kadang kenangan itu hadir
kemudian dia memelukku erat
seperti dia menjabat tanganku diwaktu malam menyelimuti
keramaian alun-alun kotaku

kenangan itu berganti dengan wajah tampan seseorang
walau bukan seseorang yang tak kukenal
tapi dia dapat membuat senyum kesedihanku
menjadi segaris bibir tak berbicara
hingga membuat sifat feminim membasahi kulit berminyakku
kali ini juga aku tidak tahu dimana seseorang tersebut
ketika aku menatap wajahnya
tak ada sedikitpun rasa yang seperti dulu kualami
mengintainya dari belakang hingga dia mengetahuinya
dia menghilang begitu saja dan kali ini aku peduli
dia satu-satunya yang membuatku menangis
yang membuat mata ini tertuju padanya
yang membuat aku sebagai kakak perempuannya

ejek aku dengan sebutan jorok
kolong mejaku penuh dengan tisu dan kertas
telapak tanganku dilukisi tinta dan tipe x, bukan oleh garis masa depanku
sambil terus memegang sebatang pensil
tangan kiriku menggaruk-garuk hidung kemudian
memainkan rambut
walau duduk dipaling depan
aku masih bisa tertidur lelap dikelas

kejadian ini sambil kau masih terus disampingku
aku melihat sebaris gigi di lorong gelap di koridor sekolah
diseberang kelasku
sambil terus tersenyum
senyum itulah yang terakhir kulihat
disaat aku mulai mengganti kulitku
melepasmu umur enam belas
senyum itu hadir disaat umur tujuh belas menyuntingku
tapi entah sampai saat ini
kakiku belum melangkah mendekatinya
sambil menanyakan “mengapa kau tersenyum padaku?“
dengan hubungan teman, aku masih diam
padahal senyum itu telah berjalan mendekati
tapi setidaknya aku sudah membalas senyumnya
senyum kebahagiaanku
aku harap dia dapat memberiku duka selain suka
begitupun dengan aku terhadapnya

October 12, 2004

Kau Tentang Dia

Filed under: Puisi - Poem

dia duduk sendirian
sambil melihat tulisanku
tulisanku tentang absennya
mendengak-dengak matanya
menganguk-angguk kepalanya
sekarang dia sedang melamun
melihat ke arah luar
jalannya sangat cepat
hingga aku kehilangan jejaknya
sekarang dia dekati temannya
teman baiknya
aku sudah bilang jalannya sangat cepat
dia hampiri si pelawak kelas yang sedang duduk di meja
tangannya memainkan buku
senyumnya menebar keseluruh wajahnya
manis…dia tertawa manis
tampan…lebih tampan dari pujaan hatiku
nyatanya…lebih dekat dari yang ada di hati
tapi sisinya tak bisa berubah
di hatiku Cuma ada kau seorang
seberapa bencinya aku padamu
masih ada kau yang ku suka
aku terhadap dia hanya sebuah kekaguman hati
jangan salah paham

Di Balik Pohon

Filed under: Puisi - Poem

dalam kebimbangan aku berdiri
di sebuah lorong yang sempit
melihatmu perlahan di balik pohon
aku menyatakan hal ini perlahan
sebagai tanda atas kecepatan tingkahku
ruas jalan tol yang berhembus menggoyangkan daun
aku bingung merasakan hal ini
bukannya di hatiku tak terlukis namamu
tapi saat memikirkanmu
terbayang wajahnya
aku buang semua sisa hujan yang ada di dalam
kubuang lumut hijau pemberian air
kubuang lumpur pemberian tanah
kubuang embun pemberian rintik hujan
kuhentikan galian lubang di hati
kembali kususun gigi susuku tuk berbaris
tapi tetap saja dalam hariku
saat memikirkanmu, terbayang wajahnya

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M